SOCRATES
Socrates
The Socratic Method
"The only true wisdom is in knowing you know nothing."
"An unexamined life is not worth living."
"True knowledge exists in knowing that you know nothing."
"The secret of change is to focus all of your energy, not on fighting the old, but on building the new."
"Understanding a question is half an answer."
"By all means, marry. If you get a good wife, you’ll become happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher."
"Strong minds discuss ideas, average minds discuss events, weak minds discuss people."
"The only true wisdom is knowing that you know nothing."
"Envy is the ulcer of the soul."
"The only good is knowledge and the only evil is ignorance."
"I cannot teach anybody anything. I can only make them think."
"He who is not contented with what he has, would not be contented with what he would like to have."
"Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle."
Plato
built Academy that run until 529 M
Plato's philosophy trough written conversations
The Theory of Forms
The Tripartite Theory of The Soul: Reason, Spirit, Appetite
The Importance of Education
Plato's Cave : Knowledge vs the senses; The Allegory of the Cave; What it means
Exixtentialism: The Individual and the human experience; Common Themes of Existentialism; The Individual;Choice; Anxiety; Authenticity; The Absurd; Religion and Existentialism
Aristoteles
Wisdom starts with understanding yourself
Logic
Metaphysics
Virtue
Aristocracy: lead by king and philosopher
teacher of Alexander the great
1. Socrates (470–399 SM)
Teori Pengetahuan (Epistemologi): Socrates percaya bahwa pengetahuan sejati datang dari introspeksi dan pengakuan bahwa kita tidak tahu segalanya. Metode utamanya adalah dialektika (dikenal juga sebagai metode Socratic), yaitu dialog tanya jawab untuk membongkar konsep yang keliru dan menggali kebenaran. Ia tidak menulis apa pun, dan kebanyakan ajarannya diketahui melalui tulisan murid-muridnya, terutama Plato.
Etika: Socrates menekankan pentingnya pengetahuan dalam tindakan moral. Ia percaya bahwa kebajikan adalah pengetahuan, artinya seseorang akan berperilaku benar jika ia benar-benar memahami apa yang benar.
Tujuan Hidup: Socrates berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebajikan (virtue) dan kebaikan, bukan kekayaan atau kekuasaan.
2. Plato (427–347 SM)
Teori Ide (Metafisika): Salah satu teori utama Plato adalah Teori Ide (Forms), yang mengatakan bahwa dunia yang kita lihat hanyalah bayangan dari dunia yang lebih tinggi dan sempurna, yaitu dunia ide. Misalnya, konsep "keadilan" di dunia nyata hanyalah cerminan dari keadilan ideal yang ada di dunia ide.
Epistemologi: Plato menganggap bahwa pengetahuan sejati hanya bisa didapatkan melalui pemahaman tentang dunia ide, bukan dunia indra. Ia menganggap indra kita menipu, dan hanya melalui akal budi kita bisa mencapai pengetahuan yang sejati.
Politik: Dalam bukunya Republik, Plato menggambarkan model negara ideal yang dipimpin oleh raja-filsuf, yaitu orang yang memahami kebenaran sejati dan berhak memimpin masyarakat. Ia juga mengkritik demokrasi, karena dianggap memberikan kekuasaan pada orang-orang yang tidak terdidik.
Etika: Plato percaya bahwa kebaikan tertinggi adalah kebenaran, keindahan, dan keadilan. Hidup yang baik menurutnya adalah hidup yang selaras dengan ide-ide ini.
3. Aristoteles (384–322 SM)
Metafisika: Aristoteles mengkritik Teori Ide Plato dan menekankan pentingnya pengalaman indrawi. Ia percaya bahwa esensi sesuatu tidak ada di dunia terpisah, tetapi ada dalam objek itu sendiri. Baginya, benda-benda memiliki "substansi" dan "bentuk" yang nyata.
Epistemologi: Aristoteles menekankan pentingnya pengamatan dan induksi untuk mendapatkan pengetahuan. Ia adalah pionir dalam penggunaan metode ilmiah, dan percaya bahwa pengetahuan berasal dari studi dan pengamatan dunia nyata.
Politik: Dalam bukunya Politics, Aristoteles berargumen bahwa bentuk pemerintahan yang terbaik adalah politeia (suatu bentuk pemerintahan campuran yang melibatkan elemen-elemen demokrasi dan oligarki). Ia menekankan keseimbangan dan peran kelas menengah dalam menjaga stabilitas negara.
Etika: Etika Aristoteles berfokus pada eudaimonia, atau kebahagiaan dan kesejahteraan hidup, yang dicapai melalui pengembangan kebajikan. Ia menekankan pentingnya kesederhanaan atau jalan tengah (golden mean), yaitu menjaga keseimbangan antara dua ekstrem perilaku.
Perbandingan Singkat:
Socrates lebih berfokus pada dialog dan pengembangan moral melalui introspeksi.
Plato mengembangkan teori tentang realitas dua dunia: dunia ide dan dunia fisik, serta berfokus pada negara ideal dan filsafat politik.
Aristoteles menekankan pentingnya dunia fisik dan pengalaman indrawi untuk mendapatkan pengetahuan, serta berusaha mencari keseimbangan dalam kehidupan moral dan politik.
Ketiganya memberikan kontribusi penting dalam etika, epistemologi, dan politik, tetapi dengan pendekatan dan perspektif yang berbeda.
1. Socrates
Tidak menulis karya sendiri: Socrates tidak meninggalkan tulisan tertulis apapun. Pemikirannya diketahui melalui karya murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon. Karya-karya yang menggambarkan pemikiran dan metode Socrates biasanya ditulis dalam bentuk dialog, di mana Socrates adalah tokoh utama.
Beberapa karya yang menceritakan Socrates (ditulis oleh Plato):
"Apologi": Kisah pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena.
"Kriton": Dialog antara Socrates dan Kriton tentang keadilan dan kewajiban untuk mematuhi hukum.
"Fedon": Dialog yang membahas kematian dan keabadian jiwa, berlatar belakang kematian Socrates.
"Simposium": Dialog yang sebagian besar membahas cinta, di mana Socrates muncul sebagai salah satu tokoh utama.
2. Plato
Plato menulis banyak dialog yang berfokus pada berbagai aspek filsafat, termasuk etika, metafisika, politik, dan epistemologi. Karya-karyanya sangat berpengaruh dalam sejarah filsafat.
Karya utama Plato:
"Republik" (Politeia): Karya terkenal Plato yang membahas konsep keadilan, negara ideal, dan peran filsuf dalam pemerintahan.
"Simposium": Sebuah dialog tentang cinta (eros), yang melibatkan beberapa pandangan tentang sifat cinta, termasuk pandangan Socrates.
"Fedon/Phaedo": Dialog tentang kematian, keabadian jiwa, dan kebajikan, yang menggambarkan saat-saat terakhir Socrates sebelum dieksekusi.
"Phaedrus": Membahas cinta dan jiwa manusia, serta masalah retorika.
"Parmenides": Dialog yang menyelidiki sifat realitas dan membahas teori ide Plato.
"Timaeus": Menjelaskan pandangan Plato tentang alam semesta dan asal usulnya.
"Kritias": Kelanjutan dari "Timaeus", berisi kisah Atlantis dan juga menyentuh sejarah manusia dan kota ideal.
"Laws" (Nomoi): Karya terakhir Plato, yang menyajikan pandangan yang lebih pragmatis tentang pemerintahan dibandingkan dengan "Republik".
APOLOGY by PLATO TO FIGURE SOCRATES
"Apologi" adalah karya Plato yang menceritakan pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena, di mana ia dituduh oleh negara karena "merusak pemuda" dan "tidak menghormati para dewa kota." Karya ini merupakan salah satu teks paling terkenal tentang filsafat Socrates dan menggambarkan keberanian serta keteguhan moralnya dalam menghadapi hukuman mati. Berikut adalah poin-poin utama dari "Apologi":
1. Tuduhan terhadap Socrates
Socrates menghadapi dua tuduhan utama:
Merusak moral pemuda Athena: Ia dituduh telah menyesatkan generasi muda dengan mengajarkan cara berpikir kritis dan mempertanyakan otoritas yang ada.
Tidak mempercayai para dewa resmi Athena dan memperkenalkan dewa baru: Socrates dituduh tidak mematuhi keyakinan agama resmi negara dan menciptakan pemahaman spiritualnya sendiri, seperti mempercayai "daimon" (suara batin ilahi).
Socrates menyangkal tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa ia hanya terlibat dalam pencarian kebenaran.
2. Socrates sebagai "Lalat Pengganggu" (Gadfly)
Socrates menggambarkan dirinya sebagai "lalat pengganggu" (gadfly) bagi kota Athena. Ia percaya bahwa perannya adalah terus-menerus mempertanyakan dan memprovokasi pemikiran warga negara, terutama para pemimpin politik, agar mereka tidak jatuh ke dalam keangkuhan dan kemalasan intelektual.
Ia menegaskan bahwa meskipun metode bertanya-tanyanya mungkin mengganggu, itu penting bagi kesehatan moral kota.
3. Kebijaksanaan Socrates
Salah satu tema penting dalam "Apologi" adalah klaim kebijaksanaan Socrates. Ia terkenal dengan pernyataan bahwa ia tidak tahu apa-apa ("Saya hanya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa"). Namun, menurutnya, inilah yang membuatnya lebih bijaksana daripada orang lain yang mengaku mengetahui segalanya.
Socrates mengklaim bahwa para pemimpin politik, seniman, dan ahli di Athena sering berpura-pura mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak mereka pahami, sementara ia mengakui keterbatasan pengetahuannya.
4. Misi dari Tuhan (Oracle di Delphi)
Socrates menceritakan bagaimana seorang teman, Chaerephon, bertanya kepada Oracle di Delphi siapa orang yang paling bijak di Athena, dan Oracle menjawab bahwa Socrates adalah orang yang paling bijak.
Socrates, bingung dengan jawaban ini, memulai misinya untuk menemukan makna di balik pernyataan Oracle. Ia kemudian berkeliling bertanya kepada orang-orang terkenal dan berpengaruh di Athena, hanya untuk menemukan bahwa banyak dari mereka sebenarnya tidak bijaksana. Dari situ, Socrates menyimpulkan bahwa kebijaksanaannya terletak pada pengakuan bahwa ia tidak mengetahui segalanya.
5. Menolak Kemunafikan dan Kepalsuan
Socrates menolak cara hidup yang didasarkan pada kemunafikan, kepalsuan, dan kepentingan pribadi. Ia selalu berkomitmen untuk mencari kebenaran, meskipun itu membuatnya tidak populer dan bahkan mengarah pada pengadilan yang ia hadapi.
Menurut Socrates, mencari kebenaran dan kebajikan adalah tujuan tertinggi hidup manusia, bukan kekayaan atau kekuasaan.
6. Penolakan Terhadap Saran untuk Diam
Selama pembelaan, Socrates diberi pilihan untuk berhenti mengajarkan filsafat dan menghindari hukuman mati. Namun, ia dengan tegas menolak tawaran ini. Ia berpendapat bahwa hidup tanpa pencarian kebenaran dan kebijaksanaan tidaklah layak untuk dijalani. "Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani," tegasnya.
Socrates lebih memilih mati daripada meninggalkan prinsip-prinsipnya dan berhenti dari apa yang ia anggap sebagai misi yang diberikan oleh Tuhan.
7. Ketidakpedulian terhadap Kematian
Socrates menunjukkan ketenangan dan ketidakpedulian terhadap kematian. Ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi setelah mati, sehingga tidak masuk akal untuk takut pada sesuatu yang tidak kita ketahui.
Ia melihat kematian sebagai dua kemungkinan:
Sebuah keadaan tanpa kesadaran, mirip dengan tidur yang sangat nyenyak, yang menurutnya menyenangkan.
Atau, peralihan ke kehidupan setelah kematian, di mana ia akan bisa bertemu dengan orang-orang besar dari masa lalu dan terus berdiskusi tentang kebajikan dan kebenaran.
8. Moralitas Di Atas Hukum
Socrates percaya bahwa kewajiban moral seseorang lebih tinggi daripada hukum negara. Jika negara memerintahkan sesuatu yang tidak adil, Socrates menegaskan bahwa ia tidak akan mentaatinya. Ia lebih memilih untuk setia pada prinsip-prinsip moralnya daripada tunduk pada otoritas yang tidak adil.
Baginya, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani dengan integritas moral, meskipun itu berarti melawan mayoritas atau penguasa.
9. Penghormatan terhadap Hukum Meski Tak Setuju
Meskipun ia mengkritik keputusan pengadilan, Socrates tidak mencoba melarikan diri atau menghindari hukuman. Ia tetap menerima keputusan itu sebagai bagian dari kewajibannya sebagai warga negara Athena.
Socrates menunjukkan kesetiaannya pada hukum negara, meskipun ia yakin bahwa keputusan itu tidak adil.
10. Kritik terhadap Para Penuduh
Socrates menyerang motif para penuduhnya, seperti Meletus, Anytus, dan Lycon, dengan menunjukkan bahwa tuduhan mereka tidak berdasar dan lebih didorong oleh kebencian pribadi dan ketakutan atas pengaruh intelektualnya.
Ia mempermalukan Meletus dengan menunjukkan bahwa ia tidak sungguh-sungguh memahami tuduhannya sendiri, terutama dalam hal tuduhan tentang ajaran yang "merusak pemuda."
11. Kesimpulan dan Hukuman
Setelah membela diri dengan gigih, Socrates dihukum mati dengan cara meminum racun. Meskipun mayoritas juri memilih untuk menghukumnya, ia tetap tenang dan menerima nasibnya dengan sikap filosofis.
Dalam pernyataan terakhirnya, Socrates memperingatkan bahwa dengan membunuhnya, Athena hanya akan memperburuk masalah, karena lebih banyak orang seperti dirinya akan muncul.
Kesimpulan:
"Apologi" menampilkan pembelaan diri Socrates yang kuat terhadap tuduhan yang diajukan padanya. Ia mengungkapkan dedikasinya pada pencarian kebenaran dan kebijaksanaan, keteguhan moralnya dalam menghadapi ketidakadilan, serta keyakinannya bahwa hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Karya ini menggambarkan keberanian Socrates untuk tetap setia pada prinsip-prinsipnya bahkan di bawah ancaman hukuman mati, dan merupakan salah satu fondasi dari tradisi filsafat Barat.
CRITON by PLATO To FIGURE SOCRATES
"Kriton" adalah dialog karya Plato yang menggambarkan percakapan antara Socrates dan sahabatnya, Kriton, saat Socrates berada dalam penjara menunggu eksekusi hukuman mati. Dalam dialog ini, Kriton mencoba membujuk Socrates untuk melarikan diri dari penjara, sedangkan Socrates membahas tema keadilan dan kewajiban untuk mematuhi hukum. Berikut adalah poin-poin utama dari "Kriton":
1. Penawaran Kriton untuk Melarikan Diri
Kriton mengunjungi Socrates di penjara dan menawarkan untuk membantunya melarikan diri. Kriton mengklaim bahwa Socrates tidak hanya akan menyelamatkan dirinya sendiri tetapi juga akan merugikan para sahabat dan keluarga yang telah berusaha keras untuk menyelamatkannya.
2. Argumen Kriton
Kriton berargumen bahwa melarikan diri adalah pilihan yang benar dan bahwa Socrates tidak harus tunduk pada hukum yang menurutnya tidak adil. Ia juga mengemukakan bahwa Socrates akan dianggap sebagai pengkhianat jika ia tidak melarikan diri dan bahwa banyak orang akan menganggapnya sebagai orang yang tidak berani menghadapi kematian.
3. Socrates dan Kewajiban terhadap Hukum
Socrates menolak tawaran Kriton dan menjelaskan pandangannya tentang kewajiban terhadap hukum. Ia berpendapat bahwa kewajiban untuk mematuhi hukum lebih penting daripada melarikan diri dari hukuman.
Ia percaya bahwa meskipun hukum dapat kadang-kadang tidak adil, seseorang tidak seharusnya melawan hukum dengan melanggar prinsip moral dan hukum secara keseluruhan. Ia menganggap bahwa melanggar hukum akan merusak keadilan dan merusak struktur masyarakat.
4. Konsekuensi dari Pelanggaran Hukum
Socrates berpendapat bahwa melanggar hukum untuk menghindari hukuman akan mengakibatkan kerusakan pada masyarakat dan kehilangan integritas pribadi. Ia menganggap bahwa bertindak melawan hukum akan membuatnya menjadi bagian dari kerusakan yang lebih besar dan merusak keadilan secara umum.
5. Argumen dari "Suara Hukum"
Dalam dialog ini, Socrates memperkenalkan argumen yang mengekspresikan suara hukum seolah-olah hukum itu sendiri berbicara. Hukum "mengatakan" bahwa jika seseorang menikmati manfaat dari sebuah kota atau negara, maka mereka memiliki kewajiban untuk mematuhi hukum kota tersebut. Dalam hal ini, Socrates melihat diri sebagai bagian dari sistem hukum Athena dan merasa bahwa melarikan diri adalah tindakan yang tidak sesuai dengan kewajiban moralnya.
6. Konsekuensi dari Melarikan Diri
Socrates juga mengemukakan bahwa melarikan diri akan menimbulkan konsekuensi buruk bagi citra dirinya dan bagi reputasinya. Jika ia melarikan diri, hal ini akan merusak pesan yang ia sampaikan tentang hidup sesuai dengan prinsip moral dan keadilan.
7. Kehormatan dan Integritas
Socrates mengutamakan kehormatan dan integritas di atas segala hal. Ia menekankan bahwa hidup yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral adalah hal yang lebih penting daripada hidup yang panjang. Dengan menerima hukuman mati daripada melarikan diri, ia mempertahankan integritas moral dan prinsip-prinsipnya.
8. Persetujuan Hukum dan Kewajiban Moral
Socrates menganggap bahwa dia telah secara eksplisit atau implisit setuju untuk mematuhi hukum Athena sepanjang hidupnya dengan tinggal di kota dan menikmati manfaat yang diberikan oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa terikat oleh kewajiban moral untuk mematuhi hukum tersebut, bahkan jika ia tidak setuju dengan keputusan pengadilan.
9. Konsekuensi Filosofis
Dialog ini menggarisbawahi perbedaan antara moralitas pribadi dan kewajiban hukum. Socrates menunjukkan bahwa kewajiban untuk mengikuti hukum dan sistem keadilan adalah bagian integral dari hidup yang berbudi luhur dan bahwa pelanggaran hukum akan merusak tatanan moral dan sosial.
10. Keputusan Socrates
Socrates memutuskan untuk tetap di penjara dan menerima hukumannya, menunjukkan kepatuhan pada prinsip dan hukum yang diyakininya. Ia melanjutkan untuk menghadapi hukuman mati dengan sikap tenang, sejalan dengan keyakinan filsafatnya bahwa hidup yang diperiksa dan sesuai dengan prinsip moral adalah tujuan utama.
Kesimpulan:
"Kriton" memperlihatkan komitmen Socrates pada prinsip-prinsip moral dan keadilan, serta penolakannya untuk melawan hukum bahkan dalam menghadapi kematian. Dialog ini mengeksplorasi tema tentang kewajiban moral untuk mematuhi hukum, meskipun hukum tersebut dianggap tidak adil. Socrates menegaskan pentingnya integritas pribadi dan kehormatan dalam kehidupan filosofis dan sosial.
Pada zaman Socrates, salah satu pemimpin besar Yunani, khususnya di Athena, adalah Pericles (atau Perikles), yang hidup dari sekitar 495–429 SM. Pericles adalah seorang negarawan, jenderal, dan orator yang sangat berpengaruh dalam perkembangan demokrasi Athena.
Berikut beberapa hal penting tentang Pericles dan perannya di Athena pada zaman Socrates:
Kepemimpinan dalam Demokrasi Athena: Pericles adalah pendukung utama demokrasi di Athena. Ia memperluas kekuasaan rakyat dengan memastikan bahwa semua warga negara laki-laki dewasa dapat terlibat dalam pemerintahan, termasuk yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah.
Zaman Keemasan Athena: Masa pemerintahannya sering disebut sebagai Zaman Keemasan Athena, di mana seni, budaya, dan filsafat berkembang pesat. Pericles juga mendukung pembangunan infrastruktur publik seperti Parthenon di Akropolis.
Perang Peloponnesos: Pericles memimpin Athena dalam tahap awal Perang Peloponnesos (431–404 SM) melawan Sparta. Namun, pada 429 SM, Pericles meninggal akibat wabah penyakit yang melanda Athena selama perang.
Socrates hidup selama masa pemerintahan Pericles dan sering terlibat dalam diskusi tentang politik dan moralitas yang relevan pada masa itu, meskipun Socrates sendiri lebih sering mengkritik sistem demokrasi.
Socrates dihukum oleh pengadilan Athena pada tahun 399 SM. Proses hukum tersebut merupakan bagian dari sistem peradilan demokratik Athena, yang terdiri dari juri yang dipilih dari warga negara yang memenuhi syarat. Berikut adalah beberapa detail tentang proses hukum yang menjatuhkan hukuman kepada Socrates:
Pengadilan dan Juri: Pengadilan di Athena terdiri dari juri rakyat yang besar, biasanya terdiri dari 501 anggota. Juri ini bertugas untuk mendengarkan kasus dan memberikan keputusan. Dalam kasus Socrates, juri terdiri dari 501 anggota.
Tuduhan dan Pembelaan: Socrates dihadapkan pada tuduhan merusak moral pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota Athena. Ia membela diri di pengadilan dengan argumen yang terkenal dalam "Apologi" karya Plato.
Putusan dan Hukuman: Setelah argumen pembelaan, juri memutuskan bahwa Socrates bersalah. Hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman mati, yang dilaksanakan dengan meminum ramuan racun, khususnya hemlock (sejenis tanaman beracun).
Motivasi dan Proses: Pengadilan ini dianggap sebagai bagian dari sistem demokrasi Athena, tetapi ada elemen politik dan sosial yang mungkin mempengaruhi hasilnya. Beberapa sejarawan dan filsuf berpendapat bahwa Socrates dianggap sebagai ancaman bagi status quo dan kebijakan politik di Athena pada waktu itu.
Socrates menerima keputusan tersebut dengan tenang dan melanjutkan dengan hukuman mati sesuai dengan sikap filosofisnya mengenai keberanian dan integritas.