SOCRATES

Socrates

Plato




Aristoteles


1. Socrates (470–399 SM)

2. Plato (427–347 SM)

3. Aristoteles (384–322 SM)

Perbandingan Singkat:

Ketiganya memberikan kontribusi penting dalam etika, epistemologi, dan politik, tetapi dengan pendekatan dan perspektif yang berbeda.


1. Socrates


2. Plato

Plato menulis banyak dialog yang berfokus pada berbagai aspek filsafat, termasuk etika, metafisika, politik, dan epistemologi. Karya-karyanya sangat berpengaruh dalam sejarah filsafat.


APOLOGY by PLATO TO FIGURE SOCRATES

"Apologi" adalah karya Plato yang menceritakan pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena, di mana ia dituduh oleh negara karena "merusak pemuda" dan "tidak menghormati para dewa kota." Karya ini merupakan salah satu teks paling terkenal tentang filsafat Socrates dan menggambarkan keberanian serta keteguhan moralnya dalam menghadapi hukuman mati. Berikut adalah poin-poin utama dari "Apologi":

1. Tuduhan terhadap Socrates

2. Socrates sebagai "Lalat Pengganggu" (Gadfly)

3. Kebijaksanaan Socrates

4. Misi dari Tuhan (Oracle di Delphi)

5. Menolak Kemunafikan dan Kepalsuan

6. Penolakan Terhadap Saran untuk Diam

7. Ketidakpedulian terhadap Kematian

8. Moralitas Di Atas Hukum

9. Penghormatan terhadap Hukum Meski Tak Setuju

10. Kritik terhadap Para Penuduh

11. Kesimpulan dan Hukuman

Kesimpulan:

"Apologi" menampilkan pembelaan diri Socrates yang kuat terhadap tuduhan yang diajukan padanya. Ia mengungkapkan dedikasinya pada pencarian kebenaran dan kebijaksanaan, keteguhan moralnya dalam menghadapi ketidakadilan, serta keyakinannya bahwa hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Karya ini menggambarkan keberanian Socrates untuk tetap setia pada prinsip-prinsipnya bahkan di bawah ancaman hukuman mati, dan merupakan salah satu fondasi dari tradisi filsafat Barat.



CRITON by PLATO To FIGURE SOCRATES

"Kriton" adalah dialog karya Plato yang menggambarkan percakapan antara Socrates dan sahabatnya, Kriton, saat Socrates berada dalam penjara menunggu eksekusi hukuman mati. Dalam dialog ini, Kriton mencoba membujuk Socrates untuk melarikan diri dari penjara, sedangkan Socrates membahas tema keadilan dan kewajiban untuk mematuhi hukum. Berikut adalah poin-poin utama dari "Kriton":

1. Penawaran Kriton untuk Melarikan Diri

2. Argumen Kriton

3. Socrates dan Kewajiban terhadap Hukum

4. Konsekuensi dari Pelanggaran Hukum

5. Argumen dari "Suara Hukum"

6. Konsekuensi dari Melarikan Diri

7. Kehormatan dan Integritas

8. Persetujuan Hukum dan Kewajiban Moral

9. Konsekuensi Filosofis

10. Keputusan Socrates

Kesimpulan:

"Kriton" memperlihatkan komitmen Socrates pada prinsip-prinsip moral dan keadilan, serta penolakannya untuk melawan hukum bahkan dalam menghadapi kematian. Dialog ini mengeksplorasi tema tentang kewajiban moral untuk mematuhi hukum, meskipun hukum tersebut dianggap tidak adil. Socrates menegaskan pentingnya integritas pribadi dan kehormatan dalam kehidupan filosofis dan sosial.


Pada zaman Socrates, salah satu pemimpin besar Yunani, khususnya di Athena, adalah Pericles (atau Perikles), yang hidup dari sekitar 495–429 SM. Pericles adalah seorang negarawan, jenderal, dan orator yang sangat berpengaruh dalam perkembangan demokrasi Athena.

Berikut beberapa hal penting tentang Pericles dan perannya di Athena pada zaman Socrates:

Socrates hidup selama masa pemerintahan Pericles dan sering terlibat dalam diskusi tentang politik dan moralitas yang relevan pada masa itu, meskipun Socrates sendiri lebih sering mengkritik sistem demokrasi.

Socrates dihukum oleh pengadilan Athena pada tahun 399 SM. Proses hukum tersebut merupakan bagian dari sistem peradilan demokratik Athena, yang terdiri dari juri yang dipilih dari warga negara yang memenuhi syarat. Berikut adalah beberapa detail tentang proses hukum yang menjatuhkan hukuman kepada Socrates:

Socrates menerima keputusan tersebut dengan tenang dan melanjutkan dengan hukuman mati sesuai dengan sikap filosofisnya mengenai keberanian dan integritas.